Perketat Aturan Poligami


Sebagai laki-laki yang pernah berpoligami, Djohan Endjelete (68) justru menganjurkan kepada para perempuan untuk tidak mau dipoligami.

 

”Saya mengimbau kepada para perempuan jangan melihat hanya dari kekayaan atau pangkatnya lalu mau dipoligami karena pasti akan terus dibohongi,” kata Djohan yang hanya tahan sekitar 1,5 tahun hidup berpoligami.

Dalam pandangan Yuni yang mendalami tasawuf Islam, untuk berpoligami dalam Islam syaratnya berat. ”Dia harus mengenal betul Allah. Lalu, sudahkah tahu siapa dirinya dan apa tujuan hidupnya,” papar Yuni.

Dia memilih bercerai ketika suaminya mulai menunjukkan tanda-tanda akan berpoligami dan bersikap kasar. Hanya sebulan setelah bercerai, suaminya sudah menikah lagi.

”Teman-temannya membantu dia melamarkan calon istrinya,” kata Yuni. Yuni prihatin pada pemahaman agama sebagian orang yang sebatas pada kulit, kurang mendalami hingga ke substansi.

Konsep bahwa dalam poligami harus adil, menurut Djohan yang pendiri lembaga swadaya bidang kesehatan Warga Siaga, sulit dilakukan orang biasa. ”Orang banyak beralasan poligami karena mengikuti Nabi. Nabi bisa berlaku adil. Tetapi, kita ini manusia biasa, perilaku kita jauh dibandingkan dengan Nabi,” kata Djohan.

Pimpinan Pesantren Dar-al-Tauhid di Cirebon, KH Husein Mohammad, sependapat poligami lebih banyak merugikan perempuan karena banyak kebohongan dilakukan suami dan manfaat secara seksual lebih banyak dinikmati suami.

Membandingkan dengan negara-negara yang mayoritas penduduknya juga Muslim, KH Husein mengatakan, banyak yang memperketat aturan poligami. ”Tunisia dan Turki bahkan melarang, yang melanggar dihukum satu tahun penjara dan didenda,” kata KH Husein yang juga komisioner Komnas Perempuan. ”Maroko dan Indonesia membolehkan dengan syarat ada izin dari istri pertama dan pengadilan.”

Hakim pengadilan wajib menyelidiki apakah laki-laki yang ingin berpoligami memiliki kemampuan keuangan. ”Di sinilah hakim dituntut menjalankan kewajibannya memeriksa dengan adil dan benar,” kata KH Husein.

KH Husein sependapat seharusnya kedekatan dengan Allah melahirkan refleksi sosial, kebaikan untuk semua orang. ”Kalau hanya individu, tidak menghadirkan efek sosial.”

Di Malaysia, gagasan klub poligami, menurut KH Husein, tidak berkembang karena masyarakatnya, termasuk perempuannya, lebih terdidik dan perempuannya lebih mandiri secara ekonomi. Alasan ekonomi memang menjadi alasan banyak perempuan takut keluar dari perkawinan yang tidak membahagiakan. (NMP)

Tulis sebuah Komentar

Required fields are marked *

*
*

%d blogger menyukai ini: