Hampir Semua Gugatan Cerai oleh Istri KDRT Dominasi Perceraian di Kabupaten Bogor


Radar Bogor 03-12-2009 13:02 WIB
Hampir Semua Gugatan Cerai oleh Istri
KDRT Dominasi Perceraian di Kabupaten Bogor

CIBINONG – Tren perceraian di kalangan artis rupanya mulai menjangkiti pasangan suami-istri di Kabupaten Bogor. Terbukti, kasus perceraian di bumi Tegar Beriman ini terus meningkat dari tahun ke tahun. Hingga Oktober 2009, Pengadilan Agama (PA) Cibinong mencatat, sedikitnya 421 pasangan secara resmi mengajukan gugatan cerai.

Banyak faktor penyebab frekuensi perceraian di Kabupaten Bogor meningkat. Dari sekian kasus, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) ternyata mendominasi gugatan perceraian yang dilayangkan istri. Sisanya disebabkan faktor ekonomi, poligami dan perselingkuhan.

Mengapa bisa demikian? Humas PA Cibinong Abdul Hamid Mayeli mengatakan, gagalnya mediasi keluarga dan pasangan di luar persidangan juga ikut andil terhadap naiknya kasus perceraian. Hampir 60 persen gugatan cerai yang diterimanya disebabkan KDRT yang kebanyakan dilakukan suami.

“Memang, pasangan yang mengajukan gugatan cerai disebabkan KDRT yang mayoritas dilakukan para suami. Tapi, kami belum tahu berapa angka pasti kasus seperti ini karena masih terus didata,” jelas Abdul Hamid kepada Radar Bogor, kemarin.

Dia juga mengaku kaget dengan naiknya kasus perceraian, karena tiap bulannya bisa mencapai 150 kasus. Bahkan, September 2009, gugatan cerai yang dilayangkan mencapai 324 kasus. Hampir semua gugatan cerai diajukan para istri.

Di sisi lain, Abdul mendukung langkah para istri jika gugatan yang diajukan benar-benar disebabkan KDRT. Akan tetapi, jika disebabkan faktor lain, dia meminta masing-masing pasangan melakukan mediasi dan musyawarah di luar persidangan.

Maju ke meja PA, kata Abdul, bukanlah solusi perceraian. Tapi, yang terpenting bagaimana menyelesaikan masalah rumah tangga secara kekeluargaan. Meskipun dalam musyawarah kekeluargaan tak bisa menemukan kata sepakat untuk rujuk, maka talak tetap menjadi pilihan akhir.

Lalu bagaimana mengatasi supaya kasus perceraian tidak meningkat? Pria yang juga hakim di PA Cibinong ini mengingatkan agar masing-masing pasangan jujur dalam berkomunikasi. Sebagai contoh, suami yang tidak jujur perihal penghasilan yang didapatnya mendorong istri mengajukan gugatan cerai. Begitupun sebaliknya, seorang suami bisa menggugat cerai istrinya jika dianggapnya tidak terbuka.

“Bisa juga hal seperti ini (gugatan cerai, red) karena masing-masing pasangan sibuk dengan urusannya masing-masing. Sehingga mereka merasa tidak cocok lagi,” terangnya.

Yang lebih memprihatinkan, gugatan cerai juga disebabkan adanya intervensi orangtua. Terutama bagi pasangan yang menikah muda, antara umur 16 hingga 20 tahun. Pasalnya, tak dimungkiri, angka perceraian di kalangan pasangan muda ternyata cukup tinggi.

“Biasanya, orangtua mendesak anaknya untuk segera menikah, meskipun anaknya belum mau. Inilah yang harus menjadi perhatian orangtua,” tandasnya.(dkw)

Tulis sebuah Komentar

Required fields are marked *

*
*

%d blogger menyukai ini: