Pelecehan Membuat Perempuan Mengurung Diri


Pelecehan Membuat Perempuan Mengurung Diri

Rabu, 16 Desember 2009 | 03:45 WIB

Kairo, Selasa – Pelecehan seksual terhadap perempuan di jalanan, sekolah, dan tempat kerja di Dunia Arab membuat mereka menutupi badan dan mengurung diri di rumah. Demikian terungkap dari para aktivis di konferensi regional pertama yang membicarakan topik yang dulu dianggap tabu.

Para aktivis dari 17 negara Arab bertemu dua hari di Kairo, Mesir, untuk konferensi yang berakhir Senin (14/12). Mereka menyimpulkan bahwa pelecehan tidak terkendalikan di seluruh kawasan tersebut karena undang-undang tidak menghukum pelaku, juga karena perempuan tidak melaporkannya, atau karena pihak berwenang mengabaikannya.

Pelecehan itu, termasuk secara fisik dan pelecehan kata-kata, tampaknya dirancang untuk mengusir perempuan dari ruang publik. Tampaknya pelecehan ini terjadi, tak peduli apa pun pakaian yang dikenakan wanita.

Amal Madbouli, yang mengenakan kerudung, mengatakan kepada Associated Press bahwa walau sudah berpakaian demikian, tetap saja dia dilecehkan. Dia menceritakan tentang seorang pria mendatanginya di jalan di kompleks rumahnya.

”Dia menyuiti saya dan terus-menerus menanyakan apakah saya mau pergi dengannya ke sebuah tempat yang lebih sepi, dan memberi saya nomor teleponnya,” kata Madbouli, ibu dua anak. ”Ini sebuah isu keamanan nasional. Saya seorang ibu dan ingin merasa tenang kala anak-anak perempuan saya keluar rumah.”

Masalah meluas

Statistik mengenai pelecehan di kawasan tersebut sampai baru-baru ini tidak ada. Namun, serangkaian kajian yang dipresentasikan di konferensi itu mengisyaratkan meluasnya masalah.

Sampai sebanyak 90 persen perempuan Yaman mengatakan telah dilecehkan. Di Mesir, dari 1.000 responden perempuan, 83 persen melaporkan dilecehkan. Sebuah kajian di Lebanon melaporkan bahwa lebih dari 30 persen perempuan mengatakan bahwa mereka telah dilecehkan.

”Kami menghadapi sebuah fenomena yang membatasi hak perempuan untuk bergerak… dan itu mengancam partisipasi perempuan di semua bidang,” kata Nehad Abul Komsan, aktivis Mesir yang mengadakan acara itu dengan dana dari PBB dan Badan Pembangunan Swedia.

Diskusi terbuka mengenai isu pelecehan pertama kali muncul di Mesir tiga tahun lalu, setelah blog di internet memberi sorotan terhadap rekaman video amatir yang memperlihatkan pria-pria menyerang perempuan-perempuan di pusat Kairo pada sebuah hari raya.

Kemarahan publik menimbulkan pengakuan publik atas masalah itu. Pelecehan seksual, termasuk pelecehan verbal dan fisik, selama ini termasuk kejahatan hanya di enam negara Arab. Sebagian besar dari 22 negara Arab hanya menetapkan tindakan pada aksi kekerasan yang jelas, seperti pemerkosaan, sebagaimana terlihat dari kajian Abu Komsan.

Para peserta konferensi itu mengatakan, pria merasa terancam oleh tenaga kerja perempuan yang semakin aktif. Kaum konservatif mempersalahkan pelecehan terjadi akibat pakaian dan perilaku perempuan.

Namun, di Yaman, yang hampir semua perempuan berpakaian tertutup dari kepala ke ujung kaki, 90 persen perempuan mengatakan tetap saja dilecehkan, khususnya dicubit. (AP/DI)

Tulis sebuah Komentar

Required fields are marked *

*
*

%d blogger menyukai ini: