Satu Istri Empat Rasa, Satu Suami Seribu Pesona


Patuk Deklarasi Antibunuh Diri
Satu Istri Empat Rasa, Satu Suami Seribu Pesona

Kompas Rabu, 16 Desember 2009 | 10:41 WIB

Kidul, Kompas – Hingga pertengahan 2009 terjadi 1.045 kasus perceraian dan 30 kasus bunuh diri di Gunung Kidul. Kondisi ini membuat prihatin warga Kecamatan Patuk sehingga mencanangkan “deklarasi tahun 2011 tak ada lagi perceraian dan bunuh diri di Patuk”.

Deklarasi dilakukan di Balai Desa Salam, Selasa (15/12), berupa pencanangan gerakan “Satu Istri Empat Rasa, Satu Suami Seribu Pesona, Dua anak Sejuta Harapan”. Selain itu, ada ajakan meluangkan waktu satu detik sebelum bepergian, yaitu suami mencium kening istri dan istri membalas mencium tangan suami.

Cium kening dan tangan ini dilakukan bersama Camat Patuk Budi Hartono, sejumlah kepala desa, dan sembilan pasang pengantin baru yang semuanya warga Patuk. Menurut Budi, kecenderungan perceraian di Patuk dalam tiga tahun terakhir menurun. Tahun 2007, angka perceraian mencapai 18 kasus, 2008 sejumlah 8 kasus, dan hingga Desember 2009 sebanyak 3 kasus. “Salah satu faktor yang menyebabkan perceraian adalah menikah di usia muda,” ujarnya.

Angka bunuh diri dalam rentang 2005-2009 terjadi masing-masing 27, 30, 39, dan 37 kasus. Tahun 2009 hingga Desember, menurut Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Kepolisian Resor Gunung Kidul Ajun Komisaris Iswanto, telah terjadi 30 kasus dan mayoritas gantung diri. Kasus terbaru dilakukan NTP (70), warga Dusun Selang, Wonosari, Sabtu lalu, dengan memanfaatkan pohon jati dekat rumahnya. Ia diduga stres, penyakit asmanya tak kunjung sembuh.

Ida Rochmawati, psikiater di Rumah Sakit Wonosari, yang beberapa waktu meluncurkan buku Nglalu yang mengulas fenomena bunuh diri di Gunung Kidul, menyatakan keheranannya mengapa banyak pihak menganggap bunuh diri kejadian biasa. “Yang pernah mencoba bunuh diri sebenarnya banyak, tapi gagal. Saya, di RSUD Wonosari, menangani 2-3 kasus. Itu belum termasuk kalkulasi mereka yang hendak bunuh diri, tapi terselamatkan dan kasusnya tak sampai ke rumah sakit dan polisi,” paparnya. Peringkat pertama

Selama 10 tahun terakhir Gunung Kidul menempati peringkat pertama kasus bunuh diri di Indonesia. “Mereka sebenarnya tak 100 persen ingin bunuh diri. Artinya, bunuh diri bisa dicegah. Sekitar 80 persen penyebab orang bunuh diri karena depresi dan stres,” tuturnya.

Adapun angka perceraian yang masuk ke Pengadilan Agama (PA) Wonosari selama 2009 mencapai 1.045 kasus, meningkat dari tahun 2008 mencapai 959 kasus. Sekitar 40 persen perceraian terjadi di Kecamatan Semanu, Wonosari, dan Tepus. Wakil Ketua PA Wonosari Abdul Malik menegaskan, perceraian adalah perkara halal, namun dibenci Tuhan. Sebab perceraian memutus dua orang yang sebelumnya terikat hubungan suami istri. (PRA/WER)

Tulis sebuah Komentar

Required fields are marked *

*
*

%d blogger menyukai ini: