Kekerasan Terhadap Perempuan Tertinggi di Jatim, Nomor 2 Jakarta


Minggu, 07/03/2010 13:30 WIB

Ari Saputra – detikNews

Jakarta – Kekerasan terhadap perempuan mengalami peningkatan signifikan, dari tahun 2008 ke 2009 hingga Januari 2010, meningkat hampir 3 kali lipat. Kekerasan terhadap perempuan tertinggi terjadi di Jawa Timur. Sementara Jakarta menduduki nomor 2.

“Kekerasan terhadap perempuan ini tertinggi terjadi di Jawa Timur dengan jumlah korban 88.836 korban, menyusul DKI Jakarta dengan jumlah 12.955 korban dan DIY 10.560 korban,” kata Sub Komisi Pemantauan Komnas Perempuan Arimbi Herupoetri di Kantor Komnas Perempuan, Jl Latuharhari, Jakarta, Minggu (7/3/2010).

Salah satu penyebab kenaikan kekerasan terhadap perempuan ini karena semakin tingginya kesadaran perempuan untuk melaporkan tindak kekerasan yang dialaminya. Selain juga akibat gencarnya pemberitaan di media massa.

“Akibat media juga, pemberitaan yang gencar mendorong perempuan berani berbicara. Seperti mahasiswa yang melaporkan pelecehan seksual oleh dosennya, kasus Anand Krishna juga,” kata Arimbi.

Dari data yang dikumpulkan sepanjang 2009 hingga Januari 2010, korban kekerasan mencapai 143.585 korban. Jumlah ini meningkat drastis dari sepanjang 2008 yang jumlahnya 54.425 koban, dan 2007 sebanyak 25.522 korban

Data ini diambil dari 269 institusi yang tersebar di Indonesia, seperti LSM, kejaksaan, polisi dan rumah sakit. Kenaikan ini juga disebabkan karena semakin baiknya pendataan di sejumlah institusi, khususnya di pengadilan agama.

Angka kekerasan yang dicapai sepanjang 2009 itu, 48 persen merupakan kekerasan seksual, 48 persen kekerasan psikis, 1,21 kekerasan fisik dan 1,83 persen kekerasan ekonomi.

Menurut Arimbi, kekerasan terhadap perempuan juga didominasi terjadi di wilayah domestik, yakni rumah tangga sebanyak 120.326 korban, dan sisanya terjadi di wilayah publik.

Solusi untuk menekan tingginya korban, Komnas Perempuan menyarankan perlindungan negara lebih sistemik, terutama untuk korban yang mendapat kekerasan di wilayah publik, serta buruh migran. Selain itu, Komnas Perempuan menyarankan pekerja media dan KPI untuk membangun kesadaran gender.
(gun/iy)

Tulis sebuah Komentar

Required fields are marked *

*
*

%d blogger menyukai ini: