MASYARAKAT YANG MENINDAS PEREMPUAN CENDERUNG LEBIH BENGIS – KISAH NUJOOD ALI: “SAYA BERUMUR 10 TAHUN, DAN SUDAH BERCERAI”


MASYARAKAT YANG MENINDAS PEREMPUAN CENDERUNG LEBIH BENGIS – KISAH NUJOOD ALI: “SAYA BERUMUR 10 TAHUN, DAN SUDAH BERCERAI”
05 MARCH 2010NEWS0 COMMENT

Sulit membayangkan bahwa ada banyak perceraian muda – atau yang lebih berani – daripada seorang gadis cilik yang masih duduk di kelas tiga SD bernama Nujood Ali.
Nujood adalah seorang gadis Yaman, dan itu bukan kebetulan Yaman penuh dengan pengantin anak dan teroris (dan sekarang, berkat Nujood, banyak anak-anak perempuan yang sudah bercerai). Masyarakat yang menindas perempuan cenderung rentan terhadap kekerasan.
Untuk Nujood, mimpi buruk ini dimulai pada usia 10 ketika keluarganya mengatakan bahwa ia akan dinikahkan dengan pria berumur 30-an. Meskipun Ibu Nujood tidak bahagia, dia tidak protes. “Di negara kami laki-laki yang memberikan perintah, dan perempuan mengikuti mereka,” tulis Nujood dalam otobiografinya yang baru saja diterbitkan minggu ini berjudul, “Saya Nujood, berumur 10 dan bercerai.”

Suami barunya memaksa Nujood untuk berhenti sekolah (saat itu Nujood kelas dua SD) karena seorang wanita yang sudah menikah tidak boleh bersekolah. Pada hari pernikahannya, Nujood duduk di sudut dengan wajah bengkak karena menangis.
Ayah Nujood meminta suami Nujood untuk tidak menyentuhnya sampai setahun setelah dia mendapat menstruasi pertama. Tapi segera setelah mereka menikah, suaminya memaksa untuk melakukan hubungan seks, tulis Nujood.
Tak lama, sang suami mulai memukuli Nujood. Ibu baru mertuanya tidak memberikan simpati. “Pukul dia lebih keras lagi,” kata ibu mertuanya kepada anaknya.

Nujood pernah mendengar bahwa hakim dapat menceraikan. Jadi suatu hari dia menyelinap pergi, melompat ke dalam taksi dan minta untuk diantar ke gedung pengadilan.
“Aku ingin bicara dengan hakim,” Nujood berkata kepada seorang perempuan di pengadilan dengan nada sedih.
“Hakim siapa yang kamu cari?”
“Saya hanya ingin berbicara dengan hakim, itu saja.”
“Tapi ada banyak hakim di pengadilan ini.”
“Bawa aku ke hakim – tidak masalah yang mana!”
Ketika ia akhirnya bertemu hakim, Nujood tegas menyatakan: “Aku ingin bercerai!”
Wartawan Yaman membuat Nujood berita besar, dan dia akhirnya mendapat perceraiannya. Publisitas Nujood mengilhami banyak pengantin anak lainnya, termasuk seorang gadis Saudi berumur 8 menikah dengan seorang laki-laki berumur 50, untuk mencari pembatalan pernikahan dan perceraian.

Sebagai pelopor, Nujood datang ke Amerika Serikat dan dihormati. Pada 2008 terpilih sebagai salah satu “Women of the Year” versi majalah Glamour’s. Memang, Nujood mungkin satu-satunya perempuan yang duduk di kelas tiga yang digambarkan sebagai “salah satu yang perempuan yang paling berani yang pernah saya tahu,” ujar Menteri Luar Negeri Hillary Clinton.

Memoar Nujood bertengger di peringkat No 1 best seller selama lima minggu di Perancis. Memoar ini diterbitkan dalam 18 bahasa, termasuk bahasa Arab.
Ketika Nujood ditanya, sekarang setelah berumur 12, apa yang dia inginkan dalam hidupnya sebagai penulis terkenal. Dia bilang memoar bahasa asing tidak terlalu penting baginya, tapi dia sudah tak sabar untuk melihatnya dalam bahasa Arab. Sejak perceraiannya, ia telah kembali ke sekolah dan keluarganya sendiri, yang kini dia nafkahi dari royalti bukunya. Awalnya, saudara laki-laki Nujood mengkritik dia karena dianggap telah mempermalukan keluarga. Namun sekarang Nujood adalah pencari nafkah utama, semua orang memandang Nujood dengan sedikit berbeda. “Mereka sangat baik padanya sekarang,” kata Khadija Al-Salami, seorang pembuat film, pendamping dan penterjemah Nujood. “Mereka memperlakukan dia seperti seorang ratu.”

Ada beberapa alasan mengapa negara-negara meminggirkan perempuan akhirnya tidak stabil.
Pertama, negara-negara tersebut biasanya memiliki tingkat kelahiran sangat tinggi, dan itu berarti pemuda menonjol dalam populasi. Salah satu faktor yang paling berkorelasi dengan konflik sosial adalah proporsi laki-laki muda berusia 15 sampai 24 tahun.
Kedua, negara-negara tersebut juga cenderung melakukan praktik poligami dan memiliki angka kematian yang lebih tinggi bagi anak perempuan. Itu berarti lebih sedikit kesempatan laki-laki untuk menikah dengan perempuan – dan lebih bujangan frustrasi yang akan direkrut oleh ekstremis.
Jadi mendidik Nujood dan memberinya kesempatan untuk menjadi seorang pengacara – impiannya – bukan hanya masalah keadilan. Ini juga merupakan cara untuk membantu mengurangi kekerasan di seluruh negeri.

Contohnya Bangladesh. Setelah memisahkan diri dari Pakistan, Bangladesh mulai mendidik anak perempuan dengan cara yang tidak pernah dilakukan Pakistan. Tenaga kerja perempuan yang berpendidikan, lahirnya industri garmen dan masyarakat sipil, dan mereka yang berpendidikan adalah salah satu alasan Bangladesh saat ini jauh lebih stabil daripada Pakistan.

Amerika Serikat bulan lalu mengumumkan memberikan bantuan militer sebesar $ 150 juta untuk Yaman untuk memerangi ekstremis. Padahal hanya dibutuhkan $ 50 untuk mengirimkan seorang gadis ke sekolah umum selama satu tahun – dan gadis-gadis seperti Nujood mungkin terbukti lebih efektif daripada rudal-rudal untuk mengalahkan teroris.

oleh. Nicholas D. Kristof adalah kolumnis New York Times.
(diterjemahkan oleh Firliana Purwanti)

Tulis sebuah Komentar

Required fields are marked *

*
*

%d blogger menyukai ini: