Membongkar Konsep Ketaatan Istri


dari Harian Sinar Harapan
http://www.sinarharapan.co.id/content/read/membongkar-konsep-ketaatan-istri/
17.06.2011 10:21
Membongkar Konsep Ketaatan Istri

Penulis : Tunggal Pawestri*

(foto:dok/ist)

Ingat epik Rama dan Sinta? Sinta harus membuktikan kesuciannya pada Rama, setelah diculik Rahwana.

Padahal ia baru saja lepas dari kekerasan. Lalu Sinta pun melemparkan diri ke api, sebagai bentuk ketaatannya.

Kisah Rama dan Sinta dibuat tiga abad sebelum Masehi. Namun kini terdapat banyak kisah yang hampir mirip. Bukan sekadar cerita sastra, melainkan kisah nyata.

Dari kisah istri yang diminta jadi kurir narkoba hingga kisah istri yang diminta jadi pekerja seks oleh suaminya.

Bagi sekelompok orang, ketaatan istri perlu dilembagakan. Awal Juni di Malaysia, sekelompok perempuan muslim meluncurkan sebuah klub yang mereka namai The Obedient Wife Club (OWC) atau Klub Istri Taat.

Penggagas sekaligus juru bicaranya adalah Maznah Taufik, anggota Global Ikhwan yang juga pernah terlibat dalam pembentukan Klub Poligami Ikhwan dua tahun lalu.

Ia meyakini bahwa perselingkuhan, perceraian, dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) disebabkan kegagalan istri dalam melayani suami (AFP, 3/6).

Sementara itu, Dr Rohaya Mohamed, Wakil Presiden OWC, menyatakan bahwa menjadi istri yang baik adalah menjadi pelacur yang baik bagi suami. Dengan cara ini, penyakit sosial di masyarakat dapat berkurang.

Seperti Klub Poligami yang sudah diluncurkan di Indonesia, menurut New Strait Times, OWC juga akan membuka cabang di Jakarta.

Lewat beberapa media, Dr Gina Puspita PhD, Direktur Bagian Perempuan Global Ikhwan, sudah mengonfirmasinya.

Di Indonesia, ia akan membuat Klub Taat Suami, yang rencananya diluncurkan pada 18 Juni.

Berdasarkan wawancara yang dimuat oleh sebuah harian nasional awal pekan lalu, Gina menyampaikan hal menarik saat ditanya mengenai bakal Klub Taat Suami di Indonesia.

Menurut Gina, konsep ketaatan istri terkait dengan ketaatan suami terhadap Allah. “Kunci ketaatan istri di antaranya suami taat pada Allah, suami yang tidak melanggar aturan Allah”.

Jika diterjemahkan secara sederhana, inti kalimat di atas adalah istri bisa saja taat pada suami asalkan suami tidak melanggar aturan Allah.

Tidak ada definisi jelas ia sampaikan soal yang dimaksud dengan tidak melanggar aturan Allah.

Namun saya mengartikan bahwa suami tidak melanggar aturan Allah artinya tidak membiarkan ketidakadilan dan tidak boleh ada kekerasan, baik psikis maupun fisik, terhadap istrinya.

Menyalahkan Korban

Pada 2010, Komnas Perempuan mencatat, dari 136.000 kasus KDRT, 96 persen di antaranya menimpa istri. Jika saja logika OWC digunakan dalam membaca data ini, maka bunyi data jadi berbeda.

Data akan berbunyi: kurang lebih 130.000 kasus KDRT terhadap istri disebabkan para istri gagal melayani suami. Jika diibaratkan, sudah jatuh tertimpa tangga pula. Sudah menjadi korban kekerasan masih juga disalahkan.

Pemikiran tersebut bukan barang baru. Istilah “blaming the victim” atau menyalahkan korban adalah istilah yang dipopulerkan psikolog ternama William Ryan pada 1970-an.

Ryan menilai bahwa konsep menyalahkan korban adalah sebuah ideologi pembenaran atas kejahatan berbasis ras dan ketidakadilan sosial yang menimpa warga kulit hitam di Amerika Serikat.

Ada kecenderungan untuk toleran terhadap pelaku kekerasan dan menyalahkan korban. Biasanya hal ini bisa dilakukan jika satu kelompok berkuasa atas kelompok lainnya.

Pada kurun waktu tersebut, kulit putih Amerika-lah yang lebih berkuasa atas kulit hitam.

Dalam konteks hubungan suami istri dan masyarakat yang masih kental nilai patriarki, suami berkuasa terhadap istri.

Untuk itu, tak heran jika korban kekerasan, istri, menjadi objek yang dianggap salah jika suami berselingkuh, memnya cerai, atau melakukan KDRT.

Termasuk membebankan penyebab penyakit sosial seperti prostitusi di pundak para istri.

Cara berpikir seperti inilah yang harus dibongkar. Membiarkan logika berpikir seperti itu terus bertahan sama artinya dengan melanggengkan kekerasan terhadap perempuan.

Bukankah konstitusi telah memuat dengan jelas bahwa perempuan dan laki-laki memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam berbangsa dan bernegara?

Penghormatan

Lewat mesin pencari di internet, “obedient“ bukan hanya merujuk pada human behaviour, namun juga “God, dog, dan pet behaviour”.

Menurut kamus Mirriam Webster, “obedient” artinya “readily giving in to the command or authority of another,” menyerahkan diri pada komando atau otoritas orang lain.

Sederhananya, berdasarkan arti kata itu, ada satu orang yang memiliki otoritas lebih tinggi dari lainnya.

Seseorang yang tak memiliki otoritas mesti patuh dan taat pada perintah pemilik otoritas. Dalam logika OWC, suami pemilik otoritas dan istri adalah objek otoritas suami.

Meski tidaklah sempurna dan perlu diperbaiki, UU Perkawinan No 1 Tahun 1974 memberikan pengakuan bahwa suami dan istri memiliki relasi yang setara dalam rumah tangga.

Pasal 31 Ayat 1 menyatakan, “hak dan kedudukan istri adalah seimbang dengan hak dan kedudukan suami dalam kehidupan rumah tangga dan pergaulan hidup bersama dalam masyarakat”.

Relasi setara ini menjadi penting karena potensi kekerasan dan ketidakadilan justru terjadi jika ada relasi yang timpang.

Artinya, konsep kepatuhan OWC menjadi tak relevan karena menjauhi makna kesetaraan; sesuatu yang sejak lama diperjuangkan gerakan perempuan di Indonesia dan di seluruh dunia.

Lalu apakah dalam sebuah pernikahan konsep ketaatan tidak boleh ada? Konsep taat tidak selamanya buruk. Konsep ini menjadi bermakna jika mendasarkan pada kesepakatan kedua belah pihak.

Patuh dan taat pada perjanjian bersama saat menikah. Taat pada kesepakatan untuk saling menghormati satu sama lain. Taat dan patuh pada ikrar pernikahan untuk tidak melakukan kekerasan terhadap pasangan.

Atas dasar inilah nama klub dan basis pemikiran para pendirinya harus diubah.

Jika tujuan utamanya meningkatkan kualitas hubungan suami-istri dalam sebuah pernikahan, klub ini harus ganti nama menjadi Klub Suami Istri Taat Keadilan dan Kesetaraan. Bagaimana?

*Penulis adalah anggota Klub Perempuan Menulis, Jakarta.

Tulis sebuah Komentar

Required fields are marked *

*
*

%d blogger menyukai ini: