Arbi Sanit: Menikah Empat Kali, Walikota Bogor Sebaiknya Dipecat


Sabtu, 25/06/2011 06:20 WIB
Arbi Sanit: Menikah Empat Kali, Walikota Bogor Sebaiknya Dipecat
Egir Rivki – detikNews

foto: detikcom

Jakarta – Pengamat politik Arbi Sanit menilai pernikahan Walikota Bogor Diani Budiarto yang keempat, merupakan perbuatan tidak etis. Ia juga menyatakan, Diani Budiarto seharusnya diberhentikan dari jabatannya karena gagal menjadi pemimpin yang baik.

“Hemat saya, dia itu tidak pantas jadi Walikota, tidak pantas jadi pemimpin, itu namanya menyalahgunakan kekuasaan,” ungkap Arbi saat dihubungi detikcom, Sabtu (25/6/2011).

Pakar Politik Universitas Indonesia ini, meminta kepada pemerintah agar Walikota Bogor tersebut diberi sanksi. Alasannya, sebagai pemimpin dia dianggap telah menyalahgunakan kekuasaan.

“Itu perbuatan yang opurtunis, mentang-mentang punya duit, punya kekuasaan dia memanfaatkan hal itu untuk menindas hak perempuan,” jelasnya.

Lanjut lagi Arbi bercerita, bahwa pada zaman orde baru, pejabat yang memiliki dua istri bisa dipecat jabatannya. Ia berharap saat ini pemerintah juga mampu mengambil sikap tegas.

“Saya rasa peraturan orde baru tersebut harus diberlakukan dan saya minta agar Walikota tersebut harus dipecat,” tegas Arbi

Diani telah menikah empat kali. Pernikahan pertama berakhir dengan perceraian. Diani lantas menikah dengan Fauziah yang kini menjadi ibu walikota. Kemudian pada 2004, Diani mulai berpoligami dengan menikahi seorang pengurus organisasi. Terakhir, Diani menikah dengan Siti.

Resepsi Diani dan Siti telah berlangsung pada Kamis (23/6) kemarin dengan undangan terbatas di kediaman Diani di Bogor Nirwana Residence (BNR), Bogor. Pernikahan keempat ini dikritik. Sebabnya, Fauziah Budiarto istri keduanya yang selama ini mendampinginya dalam acara resmi-resmi sedang dirawat di salah satu rumah sakit di Jakarta.

Diani adalah walikota Bogor yang menjabat untuk periode keduanya, 2009-2014. Pria kelahiran Bandung, 14 Januari 1955 ini, menjadi walikota atas sokongan sejumlah partai antara lain PDIP, Golkar dan PKS.

(van/gah)

Tulis sebuah Komentar

Required fields are marked *

*
*

%d blogger menyukai ini: