Wali Kota Bogor (bandot) tidak beri contoh baik


PERNIKAHAN KE-4
KPAI: Wali Kota Bogor
Tidak Beri Contoh yang Baik

Senin, 27 Juni 2011
JAKARTA (Suara Karya): Pernikahan ke-4 Walikota Bogor Diani Budiarto dengan gadis berusia 19 tahun, Siti Indriyani pada Kamis 23 Juni lalu terus menuai kecaman.

Sebagai pejabat daerah, seharusnya Diani memberi contoh yang baik bagi warganya. Bukannya mengedepankan nafsunya.

“Saya kira dia bukan contoh yang baik, karena tidak bisa menahan diri. Tentu saja sebagai warga Bogor, saya menolak pemimpin seperti itu,” kata Ketua Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait dalam sebuah kesempatan, Minggu (26/6).

Ariest menjelaskan, dari segi usia bila ditinjau dari hukum agama Siti memang sudah pantas menikah.

Namun demikian, yang menimbulkan persoalan adalah istri pertama Diani saat ini tengah dirawat di rumah sakit.

“Ini bisa dianggap sebagai tindakan yang menciderai perasaan wanita. Sekalipun secara agama dibenarkan, sebagai pejabat publik, Diani seharusnya dia bisa menahan diri. Saya kira paradigma kawin dini semacam ini harus diubah mulai sekarang,” ucap Ariest.

Kecaman serupa dilontarkan pengamat politik Arbi Sanit. Ia mengatakan bahwa tindakan Diani adalah penyalahgunaan kekuasan dan harus segera ditindak atau dipecat.

Alasannya, apakah gadis berusia 19 tahun itu mau menikah dengan Diani seandainya dia bukan seorang wali kota.

“Gadis yang katanya pegawai kafe itu pasti tak akan mau menikah dengan seorang laki-laki berusia 56 tahun, jika laki-laki itu tidak mempunyai kekuasaan atau kekayaan.

Apalagi dijadikan sebagai istri yang keempat. Memang menikah itu adalah urusan pribadi Diani, tetapi ia juga punya etika sebagai pejabat publik,” ujar Arbi Sanit. Ditambahkan, tindakan seorang pejabat publik merupakan pesan yang ingin disampaikan kepada warganya.

Misalkan, ketika seorang pemimpin itu bergaya hidup hemat dan bersahaja, maka ia menjadi panutan bagi rakyatnya untuk berhemat dan hidup sederhana.

“Ketika Diani menikahi perempuan usia 19 tahun, tindakan itu seakan menjadi panutan bagi para perempuan lulusan SMA di kota Bogor, bahwa mereka tidak perlu sekolah tinggi dan tidak perlu kerja keras untuk menjadi kaya. Cukup mencari pria tua kaya raya untuk dijadikan sebagai suami,” tutur Arbi Sanit.

Diani merupakan Wali Kota Bogor untuk masa periode keduanya 2009-2014. Lelaki berjenggot yang lahir di Bandung, 14 Januari 1955 ini menjadi Wali Kota untuk periode kedua kalinya.

Sementara dari kalangan masyarakat mengaku, dengan terpublikasi secara luas pernikahan yang menghebohkan ini, membuat Walikota akan stres yang ujungnya berdampak pada pelayanan publik.

Masyarakat beranggapan, ketidakhadiran Wali Kota pada acara di tingkat lokal maupun nasional tiga hari terakhir, menunjukkan bukti betapa depresinya Diani tentang berita pernikahannya dengan karyawan kafe tersebut.

“Secara pribadi, saya prihatin. Kabar pertama yang saya terima, antara percaya dan tidak. Pasalnya yang menjadi istri adalah anak usia 19 tahun.

Pegawai kafe lagi,” kata Dodi Setiawan, anggota DPRD Kota Bogor asal Fraksi Partai Demokrat dalam kesempatan terpisah, kemarin.

Sejumlah kalangan LSM di kota Bogor menilai, dengan memiliki empat istri, seorang kepala daerah berpotensi melakukan korupsi.

Pasalnya dengan gaji Rp 35 juta/bulan, rasanya tidak mungkin menghidupi empat istri yang diakui memiliki ambisi beragam.

Isu yang merebak, semua istri wali kota dibelikan rumah dan mobil. Salah satu istrinya yang bermukim di Taman Sari Persada, juga dibelikan mobil Honda Stream.

Sedangkan bagi istri ke empatnya, dibelikan mobil Honda Jazz. “Kalau pembelian mobil Honda Jazz untuk Siti Idriyani, itu tidak ada, kata Asep Firdaus, Kabag Humas Pemkot Bogor beberapa waktu lalu.

Saat ditanya apa yang melatarbelakangi pernikahan tersebut, Asep tidak memberikan jawaban pasti. (Ant/Tri Wahyuni)

Tulis sebuah Komentar

Required fields are marked *

*
*

%d blogger menyukai ini: