Dirjen Bimas Islam Sayangkan Perceraian Meningkat


Dirjen Bimas Islam Sayangkan Perceraian Meningkat
05 Aug 2011

Nasional
Pelita

Jakarta, Pelitadirjen Bimas Islam Kementerian Agama (Kemenag) Prof Dr H Nasaruddin Umar, MA menyayangkan peristiwa perceraian yang terus meningkat. Kondisi itu terjadi karena didorong oleh terlalu cepatnya para hakim di peradilan agama mengambil keputusan.

“Hakim terlalu cepat menjatuhkan ketuk palu,” kata Nasaruddin di Jakarta, Kamis (4/8) usai menghadiri penandatanganan kesepahaman bersama antara Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dan Kemenag.

Kemenag dan BKKBN bersepakat untuk menyukseskan program pendidikan kependudukan dan KB melalui peran lembaga pendidikan agama dan pendidikan keagamaan serta lembaga agama dan keagamaan.

Pada acara itu Sekjen Kemenag Bahrul Hayat mewakili Menag, turut hadir beberapa pejabat Kemenang lainnya, antara lain Dirjen Pendidikan Islam Muhammad Ali, Dirjen Bimas Hindu IBG Yudha Triguna dan Dirjen Bimas Islam.

Nasaruddin Umar menyebutkan bahwa hakim pada Peradilan Agama masih terkesan mengejar target bahwa makin banyak kasus yang cepat diputuskan dinilai sebagai berkinerja baik. Padahal tidak demiki-an, karena hakim pada peradilan itu harus meneliti kasusnya dengan baik.

“Bisa jadi, ketika kasusnya belum diputus, pasangan suami-isteri berbalik untuk tidak saling gugat. Malah ingin menyatu kembali, papar Nasaruddin.

Nasaruddin mengakui penyebab perkawinan beragam. Namun diharapkan ke depan para hakim yang menanganinya harus benar-benar teliti, karena kasus gugat cerai yang diputuskan menyangkut kelangsungan hidup pasangan bersangkutan. Termasuk pula dari kedua keluarga pasangan bersangkutan dan keturunannya.

Untuk itu, lanjut Dirjen Bimas Islam mengimbau bahwa Mahkamah Agung (MA) tidak menjadikan kasus gugat cerai yang diputus di Pengadilan Agama sebagai kinerja hakim.

Justru hakimnya harus memberikan kontribusi bagaimana menyatukan pasangan suami-istri yang hendak bercerai rujuk kembali. “Jadi, di sini, hakim harus memberikan edukasi kepada pasangan suami-istri,” katanya.

Terkait dengan program pendidikan kependudukan melalui lembaga keagamaan dan agama, yang dituangkan dalam kesepahaman bersama antara Kemenag dan BKKBN, Nasaruddin Umar menjelaskan, pro-gram itu sangat baik. “BKKBN sudah pada relnya. BKKBN sudah bekerja on the track,” kata Nasaruddin.

Bimas Islam mendukung sepenuhnya dan akan menyukseskan seluruh kegiatan itu. Terlebih lagi jika dikaitkan dengan kesejahteraan bagi umat Islam. Ia mengakui bahwa penyebab perkawinan itu bermacam-macam.

Penelitian yang dilakukan pihaknya, ada 14 faktor penyebab perceraian. “Perceraian yang disebabkan perselingkuhan menaik,” kata Nasaruddin.

Perceraian yang disebabkan faktor perbedaan politik juga masih ada. Misalnya, perbedaan pilihan partai ataupun calon dalam Pilkada.Pada 2006,tercatat 528 orang bercerai hanya karena perbedaan padangan. Penyebab perceraian lainnya antara lain poligami, kawin paksa, pernikahan di bawah umur, dan kekerasan dalam rumah tangga, menjadi tenaga kerja di luar negeri.

Namun berdasarkan data yang dikeluarkan MA pada 2010, masalah utama perceraian dipicu karena masalah ekonomi. Data yang dilansir Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung (MA) baru-baru ini menyebutkan, dari 285.184 perkara perceraian, sebanyak 67.891 kasus karena masalah ekonomi, (dik)

Tulis sebuah Komentar

Required fields are marked *

*
*

%d blogger menyukai ini: