Perempuan Bekasi Tolak Pemimpin Poligami


Penulis : Ambrosius Harto Manumoyoso | Rabu, 12 Desember 2012 | 18:03 WIB

BEKASI, KOMPAS.com- Demonstrasi oleh Gerakan Wanita Antipoligami (Gewap) di Kota Bekasi, Rabu (12/12/2012), memberi sinyal bahwa mereka menolak calon pemimpin yang terindikasi menikahi lebih dari satu istri.

Dalam aksi di depan pusat perbelanjaan Mega Bekasi Hypermall di Jalan Ahmad Yani, penggiat Gewap yang adalah ibu-ibu memakai pakaian dalam yakni celana dalam dan bra sebagai masker atau penutup wajah. Mereka juga membentangkan poster penolakan terhadap praktik poligami.

Salah seorang pendemo bernama Wina mengatakan, sudah banyak kasus pejabat publik dan tokoh masyarakat bahkan pemuka agama yang berpoligami. Contoh terkini ialah skandal nikah siri Bupati Garut Aceng Fikri yang menikahi perempuan berinisial FO.

Saat FO dinikahi, statusnya belum genap 18 tahun. Menurut aturan, pejabat publik tidak boleh berpoligami sebab melanggar sumpah jabatan. Secara etis, poligami bukan contoh baik bagi masyarakat.

Demikian juga berlaku bagi tokoh masyarakat dan pemuka agama yang melakukannya. Adapun yang menarik, demontrasi itu terjadi menjelang pemungutan suara Pemilihan Umum Wali Kota Bekasi dan Wakil Wali Kota Bekasi.

Pemungutan suara akan dilaksanakan pada Minggu (16/12).   Seorang pendemo bernama Linda mengatakan, demonstrasi jelas memberi sinyal kepada masyarakat pemilih agar menolak calon pemimpin yang berpoligami. “Jangan mau dipimpin orang yang doyan kawin,” katanya.

Praktik poligami cenderung memunculkan perilaku kepemimpinan yang korup. Si pejabat akan terpaksa dan dipaksa memenuhi kebutuhan hidup para istri.

Dengan begitu, fasilitas dan anggaran publik rentan diselewengkan oleh si pejabat untuk kebutuhan istri-istri.

Editor :
Tjahja Gunawan Diredja

Tulis sebuah Komentar

Required fields are marked *

*
*

%d blogger menyukai ini: