PBB: Satu dari 10 Pria Negara Asia Memerkosa


RABU, 11 SEPTEMBER 2013

kompas logo

KEKERASAN SEKSUAL

LONDON, SELASA — Sekitar satu dari 10 pria di beberapa negara Asia mengakui memerkosa seorang perempuan yang bukan pasangan mereka. Hal itu terungkap dalam laporan Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang kajian pemerkosaan dan kekerasan seksual yang dipublikasikan Selasa (10/9). Ketika istri atau pacar mereka dimasukkan, angka itu naik menjadi satu dari empat pria atau 25 persen.

Lebih dari 10.000 pria dari enam negara, Banglades, China, Kamboja, Indonesia, Sri Lanka, dan Papua Niugini, ambil bagian dalam survei itu. Ini merupakan survei pertama pada beberapa negara untuk meneliti seberapa luas kekerasan terhadap perempuan dan alasan di belakangnya.

Para peneliti mengatakan, temuan mereka yang mengejutkan itu seharusnya mengubah persepsi mengenai bagaimana meluasnya kekerasan terhadap perempuan dan mendorong upaya untuk mencegahnya.

Namun, hasil itu berdasarkan survei pada hanya enam negara Asia. Para peneliti mengaku tidak jelas bagaimana keadaan di negara-negara lain kawasan itu dan di luar kawasan itu. Mereka mengatakan, perilaku seks yang membudaya turut berkontribusi. Akan tetapi, faktor lain, seperti kemiskinan atau disiksa secara emosional dan fisik semasa kanak-kanak, merupakan faktor risiko penting bagi perilaku kekerasan pria.

Laporan sebelumnya dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan, sepertiga perempuan di seluruh dunia mengatakan bahwa mereka korban kekerasan rumah tangga atau seksual.

”Jelas kekerasan terhadap perempuan jauh lebih meluas pada populasi umum dibandingkan dengan yang kita perkirakan sebelumnya,” kata Rachel Jewkes dari Dewan Riset Medis Afrika Selatan, yang memimpin kedua kajian itu.

Kajian terakhir dibiayai oleh badan-badan PBB dan beberapa negara. Laporan kajian itu diterbitkan di jurnalLancet Global Health.

Dalam kajian yang baru, pewawancara pria menyurvei lebih dari 10.000 pria di enam negara. Kata ”pemerkosaan” tidak dipakai dalam pertanyaan yang diajukan, tetapi mereka yang disurvei itu ditanya, apakah mereka pernah memaksa seorang perempuan untuk berhubungan seks ketika perempuan itu tidak bersedia. Para pria itu juga ditanya, apakah pernah memaksakan hubungan seks pada seseorang yang terlalu mabuk atau dalam pengaruh obat terlarang.

Prevalensi pemerkosaan bervariasi antarnegara. Di Papua Niugini, sedikitnya enam dari 10 pria mengaku memaksa perempuan melakukan hubungan seks. Di Indonesia, angkanya hampir setengah pria di Papua dan seperempat responden di Jakarta.

Sementara itu, di New Delhi, India, pengadilan memutuskan empat terdakwa pemerkosaan bergilir terhadap seorang mahasiswi fisioterapi, Desember lalu, bersalah atas pemerkosaan dan pembunuhan. Kekerasan yang akhirnya menewaskan korban itu memicu gelombang protes di India. Vonis akan dijatuhkan Rabu, kemungkinan berupa hukuman gantung. (AP/Reuters/DI)

Tulis sebuah Komentar

Required fields are marked *

*
*

%d blogger menyukai ini: