Poligami dalam Konteks

Koran Tempo 12 Maret 2010

Alia Hogben, DIREKTUR EKSEKUTIF CANADIAN COUNCIL OF MUSLIM WOMEN (CCMW)
Selama berabad-abad, para ulama dan laki-laki muslim telah memaklumi poligami, praktek mempunyai beberapa istri, namun izin Al-Quran (terhadap poligami) dan konteksnya telah dilupakan. Dalam Al-Quran, poligami tidak pernah dibincangkan dalam konteks hak laki-laki, tetapi dalam konteks kebutuhan para perempuan dan anak-anak waktu itu.

Poligami disebutkan dalam surat keempat, An-Nisa ayat 3, 127, dan 129. Sebagian besar surat ini diwahyukan pada tahun keempat setelah peristiwa hijrah kaum muslim dari Mekah ke Madinah (sekitar 627 Masehi). Surat ini melanjutkan surat sebelumnya tentang Perang Uhud antara kaum muslim dan penduduk Mekah, di mana banyak muslim terbunuh, yang meninggalkan para janda dan anak yatim.

Ini konteks yang penting untuk setiap diskusi mengenai poligami dalam Islam, karena izin diberikan pada para lelaki dalam kondisi-kondisi khusus tersebut. Poligami dibolehkan dalam surat An-Nisa ayat 3 lantaran kepedulian Tuhan pada kesejahteraan para perempuan dan anak yatim, yang tak lagi bersuami dan berayah, yang telah meninggal karena membela Nabi Muhammad dan Islam.

Ayat ini adalah ayat tentang kasih sayang terhadap para perempuan dan anak-anak mereka; ini bukan ayat tentang laki-laki atau seksualitas mereka. Ayat ini adalah instruksi kepada masyarakat yang patriarkal bahwa perempuan-perempuan itu dan anak-anak mereka butuh perlindungan serta nafkah, yang pada saat itu memang paling efektif diwujudkan lewat pernikahan.

Menyangkut anak-anak yatim, Tuhan berfirman,”Jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil terhadap anak-anak yatim, maka nikahilah perempuan-perempuan yang kamu senangi, dua, tiga, atau empat. Tetapi jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, maka nikahi seorang saja….”Solusi ini adalah untuk memberikan perlindungan kepada perempuan dan anak-anak yatim yang rentan dalam suatu masyarakat patriarkal, dengan syarat semua istri menerima perlakuan yang adil dan setara.”

Tapi dalam ayat 129, Tuhan menyatakan bahwa untuk berlaku adil dan setara tampaknya mustahil: “Dan kamu tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istrimu, walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian….”Anehnya, ayat 129 umumnya diabaikan dan ayat 3 digunakan oleh sebagian muslim untuk membenarkan poligami bagi laki-laki, seolah-seolah ayat-ayat tersebut adalah tentang kebutuhan seksual laki-laki dan bukan tentang kesejahteraan para janda dan anak-anak yatim.

Para cendekiawan, seperti pemikir Mesir abad ke-19, Muhammad Abduh, dan intelektual muslim India kontemporer, Asghar Ali Engineer, menolak argumen bahwa hasrat seksual laki-laki bisa dipuaskan dengan beberapa istri atau bahwa hak laki-laki dan perempuan terhadap kepuasan seksual berbeda. Namun, sebagian laki-laki menggunakan contoh banyaknya istri Nabi Muhammad sebagai justifikasi untuk poligami mereka sendiri. Padahal Nabi Muhammad beristri satu selama 25 tahun. Baru setelah meninggalnya Khadijah, beliau menikahi beberapa perempuan, di mana sebagian besar pernikahan itu merupakan langkah-langkah politik untuk mengeratkan hubungan dengan suku-suku lain.

Namun, salah satu hadis sahih mengungkapkan reaksi Nabi setelah mendengar sepupu yang juga menantunya, Ali (yang menikah dengan putri Nabi, Fatimah), tengah menimbang-nimbang untuk mempunyai istri kedua. Nabi sangat marah, sampai-sampai mengumumkan ke khalayak, jika Ali menginginkan istri kedua, ia harus menceraikan Fatimah lebih dulu.

Selama berabad-abad, Al-Quran telah ditafsirkan hampir selalu oleh ulama laki-laki dan meski banyak yang bermaksud baik dan mumpuni, mereka merefleksikan masa, budaya, dan asumsi mereka sendiri. Untungnya, kini banyak cendekiawan, seperti Engineer, menyimpulkan bahwa “poligami dulu kontekstual dan monogami adalah norma” untuk masa kini. Beberapa negara, seperti Tunisia, telah mendasarkan undang-undang mereka pada pemahaman ini.

Pesan Al-Quran adalah abadi, tetapi konteksnya telah berubah dan ada banyak contoh tentang ajaran-ajaran evolusioner dari Al-Quran. Misalnya, perbudakan telah lama ada dalam masyarakat muslim. Memang benar bahwa sebagian besar budak adalah mereka yang kalah perang, tapi mereka tetaplah budak. Al-Quran mengajarkan perilaku baik terhadap para budak dan mendorong pemerdekaan budak sebagai amal saleh, tapi tidak ada ayat yang memerintahkan menghapus perbudakan. Namun kenyataannya kini, tidak ada muslim yang membenarkan perbudakan.

Kaum muslim, laki-laki maupun perempuan, harus memahami, izin untuk poligami adalah kontekstual dan terbatas. Poligami bukanlah hak yang diberikan Tuhan kepada muslim laki-laki dan dalam konteks kekinian poligami tidak lagi berlaku sebagai sarana melindungi perempuan atau menafkahi mereka. *) Hak cipta: Kantor Berita Common Ground (CGNews).

Tulis sebuah Komentar

Required fields are marked *

*
*

%d blogger menyukai ini: